![]() |
| sumber: migran-care |
Kekerasan fisik, mental dan
seksual seolah menjadi hal lumrah dialami para pahlawan devisa. Januari lalu, media digemparkan dengan kisah
pilu Erwiana, seorang TKI asal Desa
Pucangan, Ngrambe, Ngawi, yang mengalami penyiksaan oleh majikannya, Law Wan
Tung, di Hongkong (news.detik.com). Erwiana
mengalami luka luar dan dalam akibat serangkaian kekerasan yang menimpanya.
Tidak berselang lama, media pun mengabarkan kisah serupa yang dialami Sihatul
Afiah (27). Wanita asal Desa Plampangrejo, Banyuwangi, Jawa Timur ini mengalami
pemukulan di daerah kepala hingga tak sadarkan diri oleh majikannya di Taiwan (news.detik.com).
Meski
demikian, maraknya kekerasan yang dialami oleh TKI, nampaknya tak mengurungkan
minat kaum ibu untuk melakukan pekerjaan serupa. Hal ini ditunjukan dengan
jumlah penempatan TKI di luar negeri yang cenderung meningkat tiap tahunnya.
Pada tahun 2013 saja, jumlah TKI yang diberangkatkan mengalami kenaikan 3,6
persen dibanding tahun lalu (republika.co.id) mayoritas diantaranya adalah
perempuan.
Jika
bukan karena desakan ekonomi, tentu mereka akan enggan meninggalkan keluarga
dan buah hatinya selama bertahun-tahun untuk bekerja di negeri orang. Jika
bukan karena bayang-bayang kemiskinan, tentu mereka tak akan berani
menyingkirkan rasa takut akan tertimpa kejadian serupa dengan rekan-rekannya.
.jpg)