on Tuesday, April 8, 2014
sumber: migran-care
Kekerasan fisik, mental dan seksual seolah menjadi hal lumrah dialami para pahlawan devisa.  Januari lalu, media digemparkan dengan kisah pilu Erwiana, seorang TKI asal Desa Pucangan, Ngrambe, Ngawi, yang mengalami penyiksaan oleh majikannya, Law Wan Tung, di Hongkong (news.detik.com).  Erwiana mengalami luka luar dan dalam akibat serangkaian kekerasan yang menimpanya. Tidak berselang lama, media pun mengabarkan kisah serupa yang dialami Sihatul Afiah (27). Wanita asal Desa Plampangrejo, Banyuwangi, Jawa Timur ini mengalami pemukulan di daerah kepala hingga tak sadarkan diri oleh majikannya di Taiwan (news.detik.com).

Meski demikian, maraknya kekerasan yang dialami oleh TKI, nampaknya tak mengurungkan minat kaum ibu untuk melakukan pekerjaan serupa. Hal ini ditunjukan dengan jumlah penempatan TKI di luar negeri yang cenderung meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2013 saja, jumlah TKI yang diberangkatkan mengalami kenaikan 3,6 persen dibanding tahun lalu (republika.co.id) mayoritas diantaranya adalah perempuan.

Jika bukan karena desakan ekonomi, tentu mereka akan enggan meninggalkan keluarga dan buah hatinya selama bertahun-tahun untuk bekerja di negeri orang. Jika bukan karena bayang-bayang kemiskinan, tentu mereka tak akan berani menyingkirkan rasa takut akan tertimpa kejadian serupa dengan rekan-rekannya.